Teringat dulu, ketika aku mampu berimajinasi dengan bebas, tanpa beban dan mampu menuliskan nya dalam lembaran-lembaran kecil yang kusebut "Kumpulan Dongeng Kurcaci". Bercerita fiktif dan menungkan nya melalui goresan penaku yang kaku dari menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari, minggu ke minggu, hingga akhirnya terkumpullah tumpukan kertas yang selalu mampu menghipnotis teman-teman kecilku, mengajak mereka larut dan jatuh cinta pada pergumulan bersama lembaran-lembaran cerita milikku, Membaca.
Itu dulu kisah 15tahun yang lalu, ketika aku belum mengenal istilah menyerah, ketika tak ada satupun yang mampu mengungkung kebebasanku dalam berimajinasi, ketika yang aku tahu duniaku hanya bermain dengan kata. Menyusunnya menjadi bacaan ringan khas tulisan bocah, tak penting gaya bahasa apa yang sedang kugunakan, tak penting pendapat orang tentang cerita konyol yang kutuliskan, yang aku tahu ceritaku selalu menjadi topik menarik dalam komunitas kami, bocah-bocah kecil.
Tapi kini, semangat itu seolah lenyap, potensi itu seolah terpendam dalam peti yang terkunci rapat. Menulis sepertinya menjadi hal yang tak mudah. Berimajinasi menjadi hal sulit yang baru mampu aku temukan dalam moment-moment penting di setiap detik kehidupanku. Kebutuhan orang lain akan tulisan yang bernutrisi seolah menjadi momok bagiku. Entah mengapa aku seolah mulai peduli terhadap cibiran-cibiran orang. Memangkas potensiku, Miris.
Melihat teman-teman terus mampu berimaji dengan kata, membersitkan cemburu di hatiku yang tak kunjung mampu bersimfoni indah dalam kata. Melihat teman-teman terus menghasilkan karya-karya indah membuat naluri menulisku seolah terpanggil lagi. Ingin rasanya kembali membangkitkan ruh imajinasiku yang telah berhibernasi dalam jangka waktu yang lama. Ingin rasanya menuntun jemariku kembali menari gemulai diatas lembaran-lembaran kecil itu lagi, kembali berimajinasi dengan bebas dan tanpa beban, kembali Menulis.
Ya, itulah proses panjang yang menyiksa. Itu kisahku dan setiap orang pasti punya kisahnya sendiri ketika ide dan imajinasi itu seolah terkungkung. Teman, tolong ceritakan padaku jalan seperti apa yang kalian tempuh untuk keluar dari labirin ini????
